🌓 Landasan Pertama Dalam Berbuat Kebaikan Adalah

Manusiaadalah baik, dan benda-benda adalah baik, hanya jika dan selama mereka sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu celakalah mereka yg menyebut kejahatan adalah baik dan kebaikan adalah jahat ( Yes 5:20 ). Dalam PL kebaikan Allah sering diserukan sebagai tema puji-pujian dan alasan permohonan dalam doa (bnd 2 Taw 30:18; Mzm 86:5 ). Yangjelas, di sekolah-sekolah dan di setiap agama yang diakui, berbuat baik adalah sebuah kewajiban. Berbuat baik, yes. Buat jahat, no. Jangan-jangan kita belum sepenuhnya paham kenapa harus berbuat baik? Kenapa Harus Berbuat Baik. Perlakukanlah seseorang seperti kamu ingin diperlakukan. Ini adalah alasan paling umum kenapa seseorang harus berbuat baik kepada yang lain. Pada dasarnya memang kita akan mendapatkan balasan sesuai dengan yang kita berikan. Lebihdalam jika kita renungkan makna ayat fastabiquu kita akan menemukan makna bahwa di mana kita memang harus menciptakan lingkungan. Sebab dalam kata tersebut terkandung makna "berlombalah". Dalam perlombaan tidak mungkin sendirian, melainkan harus lebih dari satu atau lebih. Maka jika semua orang berlomba dalam kebaikan, otomatis akan SangBuddha menjelaskan ada 10 Cara melakukan perbuatan baik yang kemudian disebut dengan Dasa Punnakiriyavatthu. Dasa Punnakiriyavatthu terdiri dari empat kata, yaitu dasa, punna, kiriya dan vatthu. Dasa artinya sepuluh, Punna artinya jasa, baik, bajik, manfaat, berguna, Kiriya artinya melakukan, vatthu artinya dasar, hal, cara. Ketikakita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna—seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya, maka kita akan mendapatkan suatu kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi: Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga keikhlasan dan jujur pada saat beramal. Ini adalah ihsan dalam tata cara (metode). UReport, Bersedekah. Sahijab - Islam memiliki Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan nyata bagi pengikutnya. Salah satu sifat utama Rasulullah Muhammad SAW adalah senantiasa berbuat kebaikan. Sebagai umatnya, maka selayaknya kita juga melakukan kebaikan seperti yang Rasulullah ajarkan. Berbuat baik yang Rasulullah ajarkan bukan tanpa dasar. BersegeraBerbuat Kebajikan. ALLAH SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah, ayat 148, : " . Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.". Dalam surat An-Nahl, ayat 90, Allah Swt. berfirman, : "Sesungguhnya Allah menyuruh Kemampuanyang berhubungan dengan tugas dan pekerjaan adalah kesanggupan seseorang dalam melaksanakan pekerjaan secara sungguh-sungguh dan memberi hasil yang baik. Kemampuan merupakan keterampilan, pengetahuan, dan mental bekerja seseorang yang didukung dengan kondisi fisik yang baik. IbnuDaqiq al-Id rahimahullah berkata mengenai ucapan: al-birru husnul khuluq: Yang dimaksudkan dengan perangai yang bagus adalah berlaku inshâf (adil dan obyektif) dalam berinteraksi, berlaku lembut dalam bertukar pikiran (berdebat), adil dalam menjalankan hukum, memberi (atau berkorban) dengan suka rela, berbuat baik, serta berbagai bentuk sifat kaum Mukminin yang Allâh sifatkan dalam firma-Nya: . Landasan untuk Berbuat Kebajikan Puñña,kiriya,vatthu Definisi 223  Puñña kebajikan disebut demikian karena memperpanjang kesinambungan-seseorang’ Attano santānaṃ punanti. Tattha punāti attano kārakaṃ, pūreti cassa ajjhāsayaṃ, pujjañca bhavaṃ nibbattetīti puñño . Disebut sebagai kebajikan’ karena memurnikan batin seseorang yang melakukannya, menyempurnakan kecenderungannya dan menghasilkan kelahiran yang baik’ Vibh. A 142  Puñña,kiriya berbuat kebajikan adalah suatu perbuatan untuk menciptakan atau menjaga faktor-faktor pendukung untuk kebajikan’.  Puñña,kiriya,vatthu landasan untuk berbuat kebajikan adalah manfaat yang timbul dari Puñña,kiriya  sumber kebajikan. Apakah “Kebajikan” puñña sama dengan “kebaikan” kusala? o Kadang diartikan sama. o Sebenarnya keduanya berbeda karena “kebajikan”, sebaik apapun itu, akan tetap saja mengikat kita ke Saṃsāra, sementara kusala’ akan membawa kita keluar dari Saṃsāra. Sutta tentang Landasan untuk Berbuat Kebajikan Puñña,kiriya,vatthu Sutta Demikian telah dikatakan oleh Buddha “Wahai para bhikkhu, ada tiga landasan untuk membuat kebajikan.” “Apakah ke-3 landasan itu?” 1 Landasan untuk berbuat kebajikan melalui memberi’ Dāna mayaṃ, 2 Landasan untuk berbuat kebajikan melalui moralitas Sīla mayaṃ, 3 Landasan untuk menanam kebajikan melalui pengembangan-batin Bhāvanā mayaṃ. Seseorang harus benar-benar melatih diri dalam kebajikan – Yang membuahkan kebahagiaan yang berlangsung lama – yakni memberi dāna, perilaku yang harmonis dan mengembangkan batin yang penuh cintakasih. dānañ ca sama,cariyañ ca metta,cittañ ca bhāvaye Setelah mengembangkan tiga hal ini, kebahagiaan muncul. Seorang bijaksana terlahir di alam kebahagiaan yang bebas dari penderitaan batin. Renungan I Nidhikaṇḍa Sutta Khp. 8  Serapi dan seaman apapun harta yang dipendam memendamnya di dalam sumur dengan tujuan untuk masa depan kehidupannya tebusan, kemarahan raja, membayar hutang, sakit dll, tetap saja tidak bisa menjamin kebahagiaannya. Hartanya akan habis apabila berpindah tempat, lupa meletakkannya, naga dan yakkha mengambilnya, dicuri oleh sanak keluarga, tidak dijaga dg baik, atau buah kamma baiknya telah habis. Cara memendam harta yang terbaik gemar berdana dan memiliki moral yang baik, dapat menahan nafsu serta mempunyai pengendalian diri. Dānena sīlena saṃyamena damena ca  Inilah "Harta" yang dipendam paling sempurna, tidak mungkin hilang, tidak mungkin ditinggalkan, walaupun suatu saat akan meninggal, ia tetap akan membawanya. Tak seorangpun yang dapat mengambil "Harta" itu, perampok-perampokpun tidak dapat merampasnya. Oleh karena itu, lakukanlah perbuatan-perbuatan bajik karena inilah "Harta" yang paling baik.  Buah dari kebajikan ini • Wajah cantik dan suara merdu, kemolekan dan kejelitaan, kekuasaan dan pengikut, kedaulatan dan kekuasaan kerajaan besar, kebahagiaan seorang raja Cakkavati, atau kekuasaan dewa di alam surga. • Kejayaan manusia, kebahagiaan surga, kesempurnaan Nibbana, memiliki sahabat-sahabat sejati, memiliki kebijaksanaan dan mencapai pembebasan, memiliki pengetahuan untuk mencapai pembebasan, mencapai kesempurnaan sebagai seorang siswa, menjadi Pacceka Buddha atau Samma Sambuddha. Renungan II Āditta Sutta S.  Ketika rumah terbakar, tempayan yang diselamatkanlah yang masih bermanfaat, bukan yang sudah terbakar.  Demikian pula, dunia ini terbakar oleh usia-tua dan kematian. Oleh karena itu, seseorang harus menyimpan kekayaannya dengan cara berdana. Apapun yang telah dipersembahkan, aman tersimpan.  Catatan Di Kehidupan-kehidupan sebelumnya, kita telah banyak bekerja dan mengumpulkan kekayaan. o Hanya kekayaan yang telah di dirubah’ menjadi “kebajikan” lah yang masih mengikuti kita dengan terus menerus memberikan Āyu, vaṇṇa, sukha, bala panjang umur, wajah menarik, kebahagiaan dan kekuatan. o Kekayaan yang tidak sempat ’dirubah’ menjadi “kebajikan” telah terbakar oleh api kematian’ di kehidupan lampau. Puñña,kiriya,vatthu Sutta A. Dāna, maya Jarang berlatih Sering sekali berlatih √ Sīla, maya Bhāvanā, 4 Apāya alam maya Manussa 6 Deva Kehidupan tidak menyenangkan* Deva biasa Kehidupan menyenangkan Deva yg melampaui deva lain** Brahmā menyedihkan X X Keterangan * Dia akan terlahir di keluarga yang rendah status sosialnya dan tidak akan berhasil di kehidupannya. ** Melampaui dalam 10 hal umur, keindahan surgawi, kebahagiaan-, ketenaran-, kekuatan-, penglihatan, suara-, bau-, citarasa- dan sentuhan surgawi.  Di sutta, hanya bisa ditemukan tiga landasan untuk kebajikan.  Kebajikan telah diperbuat pada saat setelah melakukannya kita merenungkan “’memberi’ telah dilakukan, moralitas telah dipraktikkan, meditasi telah dikembangkan.” AA. 126  Kitab-kitab komentar menambahkannya menjadi sepuluh Landasan untuk Kebajikan Dasa Puñña,kiriya,vatthu.  Kitab Atthasālinī hal 157, CSCD menguraikan dengan detil kesepuluh Landasan untuk Kebajikan berdasarkan jenis-jenis kesadaran yang memunculkannya.  Kesemuanya bisa muncul melalui satu atau semua pintu kamma; pintu-tubuh, -ucapan dan –pikiran. 1. Dāna Memberi Kelompok Dāna 2. Sīla Moralitas Kelompok Sīla 3. Bhāvanā Pengolahan-Batin Kelompok Bhāvanā 4. Apacāyana Rasa hormat Kelompok Sīla 5. Veyyāvacca Pelayanan Kelompok Sīla 6. Pattidāna Melimpahkan Kebajikan Kelompok Dāna 7. Pattānumodanā Bersuka-cita atas kebajikan orang lain Kelompok Dāna 8. Dhammasavana Mendengarkan Dhamma Kelompok Bhāvanā 9. Dhammadesanā Membabarkan Dhamma Kelompok Bhāvanā 10. Diṭṭhijukamma Meluruskan Pandangan-pandangan Kelompok Bhāvanā 1 Dāna memberi o “Kemurahan-hati”. o “Disebut dāna karena disebabkan olehnya seseorang memberi” dīyati etenâ ti dānaṁ. o Yang disebut Dāna adalah kehendak untuk beramal atau berderma. pariccāga,-cetanā. o Sebagai landasan untuk kebajikan, “memberi” sebagai suatu tindakan bermurah-hati termasuk perbuatan2 memberi sesuatu untuk mendukung paccaya, misalnya, pakaian jubah, makanan, tempat-tinggal dan obat-obatan yang dipersembahkan dengan cara yang benar. o Buah dari kamma ini akan bisa dinikmati di kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Apapun yang telah dipersembahkan, aman tersimpan. 2. Sīla moralitas o Merujuk pada apa yang kita latih Sīlati. Sīla memperbaiki dan mengokohkan kamma tubuh dan ucapan menjadi baik. o Moralitas adalah apa yang dilatih dan ditegakkan  suatu keadaan yang teguh pada kebaikan. o Mengembangkan moralitas’ bisa melalui 5, 8, 10 Sīla. o Atau berpikir, “saya akan meninggalkan dunia,” dan setelah pergi ke vihāra dan menjadi seorang pertapa, dia merenungkan “Keinginan saya sudah tercapai; saya sekarang telah menjadi seorang bhikkhu. Hal ini adalah sangat bagus sekali.” Kemudian dia menjaga aturan disiplin monastik, merenungkan dengan penuh kehati-hatian empat kebutuhan pokok, menjaga pintu-indera, dan menghindari bahkan pelanggaran yang terkecil pun. o Kebiasaan untuk menjaga moralitas dengan cara yang mulia menghasilkan buah kamma berupa kelahiran di keluarga yang mulia serta mendapatkan kehidupan yang penuh kebahagiaan. o Pañca sīla adalah latihan sīla alamiah yang berlaku untuk semua mahluk  “tubuh” dan “ucapan” terkendali  kehidupan di bumi menjadi damai. o Aturan sīla yang lain adalah sīla yang telah ditentukan, seperti yang telah diajarkan oleh Buddha, dan bersifat tidak mengikat buat para umat-awam. o Aturan monastik, juga, merupakan sīla yang ditentukan. Tetapi para monastik harus mematuhinya sepanjang waktu, karena aturanaturan inilah yang membuat mereka berbeda dengan umat awam. 3. Bhāvanā Pengolahan-batin • Pengolahan-batin adalah alat untuk memunculkan keadaankeadaan baik kusala, melatihnya dan menyebabkannya untuk tumbuh.* • Pengolahan batin bisa dilakukan dengan terus menerus menyadari pengalaman yang datang melalui indera-indera; kontak; persepsi; perasaan; nafsu-keinginan, kemelekatan, usia-tua, sakit dan kematian sebagai anicca, dukkha dan anattā. • Apabila di praktikkan sampai pencapaian jhāna Rūpa dan arūpajjhāna maka akan menyebabkan kelahiran di alam-alam brahmā yang terkait. • Jhāna bermanfaat untuk mendapatkan konsentrasi-benar sammā samādhi pengetahuan-langsung abhiññā dan pembebasan.** * Bhāveti kusale dhamme āsevati vaḍḍhesi etāyati bhāvanā Abhds 135 ** DhsA 157 4. Apacāyana Rasa hormat • Perbuatan yang menunjukkan rasa hormat apacayati, berperilaku-pantas, ramah dengan penuh rasa hormat.* • Ber-anjali ketika bertemu dengan anggota Saṅgha, membawakan mangkuk-makan dan jubahnya, menyediakan tempat duduk dan air; memberi jalan ketika berpapasan dg orang yg lebih tua. • Hormat-thd-diri-sendiri berpantang untuk tidak melakukan kejahatan atau perbuatan tidak-baik karena rasa-malu-utk-melakukan-kejahatan’ ottappa.** * Abhds 135 ** DhsA 157 5. Veyyāvacca Pelayanan • Veyyāvacca adalah keadaan dimana seseorang aktif mengerjakan berbagai tugas.* • Melayani kebutuhan anggota Saṅgha demi menunjang latihan-latihan mereka lingkungan yang kondusif, makanan, buku, beasiswa dll. • Menyediakan air minum utk guru, aktif di kepanitiaan2 sosial organisasi Buddhis. *Taṁ,taṁ,kicca,karaṇe vyāvaṭassa bhāvo veyyāvaccaṁ Abhds 135 6. Pattidāna Pelimpahan Kebajikan • Melimpahkan sesuatu yang sudah muncul di kesinambungan arus kesadaran seseorang.* • Setelah memberikan 4 kebutuhan pokok sangha, kemudian seseorang menghormat kepada 3 permata dengan mempersembahkan bunga ataupun dupa; dan setelah mengerjakan hal tsb. dia berkata “Semoga kebajikan ini untuk semua mahluk” sabba,sattānaṁ patti hotu ItA 225. * Abhds 135 ** Untuk detil lebih lanjut silakan lihat Jāṇussoṇī Sutta dan Tirokuḍda Sutta Tirokuḍḍa sutta Khp. 6 Makanan dan minuman berlimpah, makanan keras maupun lunak dihidangkan, tetapi tidak ada seorangpun yang mengingat mereka, Mahluk-mahluk terkondisi oleh kamma. Mereka yang penuh kasih, tulus, luhur dan tepat-waktu, mempersiapkan minuman dan makanan “ Semoga ini untuk saudara-saudaraku. Semoga saudara- saudaraku berbahagia.” Idaṃ vo ñātīnaṃ hotu Sukhitā hontu ñātayo Tirokuḍḍa sutta lanjutan 1 Dengan berlimpahnya makanan dan minuman, Mereka bersukacita sepenuh hati* “Semoga saudara-saudaraku berumur panjang, dikarenakan mereka kami mendapatkan semua ini!” Menghormati kami telah dilakukan, para pemberi tidaklah sia-sia. * Yang telah-pergi’ tidak mendapatkan benda sama persis seperti yang dipersembahkan. Mereka hanya akan mengalami perubahan spiritual pada saat ikut bersukacitta atas persembahan yang dilakukan oleh para sanak saudara untuk mereka. Kvu. Tirokuḍḍa sutta lanjutan 2  Seperti halnya air jatuh dari ketinggian menuju ke bawah, demikian pula apa yang telah diberikan, bermanfaat untuk yang telah-pergi’  Seperti halnya sungai-sungai yang meluap mengisi samudera, demikian pula apa yang telah diberikan disini bermanfaat untuk yang telah-pergi’.  “Dia telah memberi saya, dia telah bekerja untuk saya saudara, teman dan sahabat buat saya. Berikanlah persembahan untuk yang telah-pergi’ mengingat apa yang telah lakukan sebelumnya.  Bukan air mata ataupun kesedihan, atau dukacita apapun; kesemuanya tidak membantu yang telah-pergi’, saudarasaudara yang telah pergi tidak mendapatkan apapun. Tirokuḍḍa sutta lanjutan 3  Tetapi ketika persembahan dilakukan, disusun dengan rapi, diberikan kepada Saṅgha, akan menghasilkan kebaikan buat mereka untuk jangka waktu yang panjang, dan bermanfaat buat mereka sekarang juga. Tugas untuk para saudara telah ditunjukkan, tentang bagaimana cara terbaik menghormati yang-telahpergi’; kekuatan, juga, telah diberikan buat para bhikkhu, tidak lah kecil kebajikan yang menjadi milik kamu!”  Arti Peta hantu-kelaparan, yang telah-pergi.  Penderitaan yang dialami oleh para Peta Ref Lakkhaṇa Saṃyutta, SN o Hantu kerangka yang terbang dan dicabik-cabik burung pemakan bangkai, gagak dan elang. Ex-penjagal. o Segumpal daging yang terbang dan dicabik-cabik burung pemakan bangkai, gagak dan elang. Ex-penjagal. o Seseorang dengan rambut-jarum di tubuh dan menusuk sekujur tubuhnya. Ex-pemfitnah. o Seseorang dengan testis sebesar kuali dikejar-kejar burung pemakan bangkai, gagak dan elang. ex-hakim yang korup. o Pemakan kotoran, memakannya dengan kedua tangan. Dia dulu mempersembahkan mangkuk makanan berisi kotoran kepada anggota sangha. o Seorang bhikkhu terbang kesana-kemari dengan jubah, mangkuk makanan, pinggang dan seluruh tubuh terbakar. ex-bhikkhu yang jahat. o Para peta tidak memperoleh materi yang dipersembahkan. Kathāvatthu. o Transformasi spiritual akan terjadi ketika mereka bersukacitta pada saat melihat para saudara melakukan persembahan buat mereka. “Semoga saudara-saudaraku berumur panjang, dikarenakan mereka kami mendapatkan semua ini!” o Jāṇussoṇi Sutta alam yang telah-pergi’ tidak mungkin kosong dari para sanak saudara.* *Anamatagga Saṃyutta S. menyatakan bahwa Saṃsāra adalah tanpa-awal sehingga tidak ada mahluk satupun yang belum pernah menjadi orang tua ataupun saudara kita. Saddhā Jāṇussoṇi Brahmana Jāṇussoṇi Idaṃ dānaṃ petānaṃ ñāti,sālohitānaṃ upakappatu, idaṃ dānā petā ñāti,sālohitā paribhuñjantu Semoga dana ini bermanfaat untuk para peta saudara dan saudara kandung, semoga para peta saudara dan saudara kandung memakan dana ini Kacci taṁ, bho gotama, dānaṁ petānaṁ ñāti,sālohitānaṁ upakappati; kacci te petā ñāti,sālohitā taṁ dānaṁ paribhuñjantī ti? Benarkah, kawan Gotama, dana ini bermanfaat untuk para peta saudara dan saudara kandung, benarkah para peta saudara dan saudara kandung memakan dana ini Buddha Ṭhāne kho, brāhmaṇa, upakappati, no aṭṭhānê ’ti Pada tempat-yang-tepat, brahmana, bermanfaat; bukan pada tempat-yang tidak-tepat. Tempat-yang-tepat dan Tidak-tepat Alam Kelahiran Tempat-yang-tidak-tepat 10 Kamma Buruk Terlahir di Neraka Terlahir di kandungan binatang Terlahir di alam manusia Terlahir menjadi deva Terlahir menjadi Peta Tempat-yangtepat 10 Kamma Baik 10 Kamma Buruk √ √ √ √ √ Berbuat Baik﴿ الإحسان ﴾] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسيMahmud Muhammad al-KhazandarTerjemah Muhammad Iqbal GhazaliEditor Eko Haryanto Abu Ziyad2009 - 1430﴿ الإحسان ﴾ باللغة الإندونيسية »محمود محمد الخزندارمن كتاب هذه أخلاقنا حين نكون مؤمنين ص 487-491ترجمة محمد إقبال غزاليمراجعة أبو زياد إيكو هاريانتو2009 - 1430Berbuat Baikوَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَDan berbuat baiklah sebagaimana Allah I berbuat baik agama mewajibkan kepada para pengikutnya berbuat baik dalam segala hal dan tidak ridha dari para pengikutnya menyukai keburukan atau melakukannya. Maka sesuatu yang diajak oleh agama kita adalah yang tertinggi dari perbuatan kita sehari-hari yang salah yang merancukan gambaran akhlak dalam agama langkah pertama di atas pintu Islam, kita dituntut untuk memperbaiki Islam kita agar dilipatgandakan pahala kita. Al-Bukhari meriwayatkanإِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلاَمَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا"Apabila seseorang dari kalian memperbaiki Islamnya, maka setiap kebaikan yang dilakukannya ditulis untuknya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, dan setiap keburukan yang dilakukannya ditulis baginya seumpamanya."[1]Bahkan sesungguhnya tumpukan dosa di masa jahiliyah yang membebani pundak orang yang baru mendapat petunjuk, ia tidak bisa bebas darinya kecuali dengan taubat yang benar dan memperbaiki amal perbuatan. Karena itulah Nabi ﷺ‬ bersabdaمَنْ أَحْسَنَ فِى اْلإِسْلاَمِ لَمْ يُؤَاخَذْ بِمَا عَمِلَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ وَمَنْ أَسَاءَ فِى اْلإِسْلاَمِ أُخِذَ بِاْلأَوَّلِ وَاْلآخِرِ"Barangsiapa yang baik di dalam Islam, niscaya ia tidak terkana sangsi karena perbuatannya di masa jahiliyah, dan barangsiapa yang berbuat jahat di dalam Islam niscaya ia terkena sangsi karena dosa yang pertama di masa lalu dan yang terakhir."[2]Ihsan adalah profesional dalam bekerja, baik dalam pelaksanaan, dan bagus dalam memberi yang meliputi fenomena kehidupan seorang laki-laki yang benar-benar baik. Maka jika engkau melihat akhlaknya engkau menemukan akhlaknya yang baik, dan sesungguhnya orang yang paling dicintai dan paling dekat kepada Rasulullah ﷺ‬ adalah Yang paling baik akhlaknya darimu[3]. Dan apabila engkau melihat kepada semua perbuatan orang yang baik niscaya engkau menemukan perbuatan ihsan padanya secara umum, karena itulah Rasulullah ﷺ‬ mengabarkan bahwa termasuk sebaik-baik manusia adalahمَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ"Orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya."[4]Sesungguhnya semua asfek kehidupan merupakan lahan untuk menaiki tangga kebaikan, karena itulah larangan mengharap kematian dikarenakan yang disebutkan dalam riwayat al-Bukhariلاَيَتَمَنَّى أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ, إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ يَزْدَادُ وَإِمَّا مُسِيْئًا فَلَعَلَّهُ يَسْتَعْتِبُ"Janganlah seseorang darimu mengharapkan kematian, bisa jadi ia orang yang baik maka ia menambah kebaikan, dan bisa jadi ia adalah orang yang jahat maka kembali dari perbuatan jahat bertaubat."[5]Maka ihsan menggiringnya kepada taubat dan intropeksi diri sebelum tibanya kematian. Sehingga gambaran membunuh dalam qisas dan menyembelih, gambaran perbuatan keras yang bisa diisi dengan perbuatan ihsanوَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ"…dan hendaklah seseorang darimu menajamkan pisau goloknya dan melapangkan sembelihannya."[6]Shalat merupakan salah satu sarana untuk menanamkan sifat ihsan di dalam jiwa karena ia menghalangi dari perbuatan keji dan munkar dan seorang mukmin berdoa dengan dosa yang ma'tsurاللهُمَّ اهْدِنِي ِلأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ لاَيَهْدِي ِلأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنيِّ سَيِّئَهَا لاَيَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ"Ya Allah, berilah petunjuk kepadaku kepada akhlak yang paling baik, tidak bisa memberi petunjuk kepada yang terbaik kecuali Engkau, palingkanlah dariku keburukannya, tidak bisa memalingkan keburukannya dariku kecuali Engkau."[7]Medan jihad merupakan salah satu kesempatan naik dengan akhlak, membersihkan tabiat buruk, dan menambah dalam ihsan. Disebutkan dalam sunan Ibnu Majah "Wahai Aktsam, berperanglah bersama selain kaummu niscaya baik akhlakmu dan engkau mulia bersama teman-temanmu…'[8] Biasanya keluar dari wilayahnya, termasuk yang berat terhadap jiwa dan bergabung bersama kaum yang lain dalam jihad fi sabilillah merupakan kesempatan untuk mendapat pengaruh kebaikan yang ada di sisi mereka dan memperbaiki budi pekerti dengan mengikuti yang paling utama yang nampak dari mereka. Pergaulan singkat biasanya menampakkan yang terbaik di sisi orang lain dan menutupi segala kekurangan yang nampak dalam pergaulan yang antara gambaran ihsan yang tertinggi –selamat bagi orang yang bisa sampai kepadanya- bahwa engkau membalas keburukan dengan kebaikan dan engkau mengikuti kebaikan yang ada pada setiap orang. Al-Bukhari meriwayatkan ucapan Utsman bin Affan t "Jika manusia berbuat baik maka berbuat baiklah bersama mereka, dan apabila mereka berbuat jahat maka jauhilah kejahatan mereka."[9]Tarbiyah Qur`ani menumbuhkan dalam jiwa seorang mukmin gambaran ihsan, karena dia diminta merenungkan kebaikan Allah I kepadanya berupa nikmat-nikmat yang tak terhingga, dan dia dituntut berbuat baik kepada makhluk seumpama yang demikian ituوَأَحْسِن كَمَآأَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَdan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, QS. al-Qashash 77Di dalam al-Qur`an banyak sekali anjuran bagi seseorang agar berbuat baik untuk mendapatkan cinta Allah I, jaminan mendapat dukungan, tidak hilang pahala, dekatnya rahmat darinya, dan diberikan hukum dan ilmu sebagai balasan perbuatan baiknya, dan untuknya di akhirat al-Husna surga dan tambahan melihat Allah I di surga, keselamatan, dan apa yang dikehendakinya…'[10]Dan sangat banyak lahan perbuatan baik di depan da'i. Jika ia ingin dakwah maka dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan jika ia menghendaki ucapan maka siapakah yang lebih baik ucapan darinya? Dialah yang mengatakan kebaikan kepada manusia. Jika ia menyuruh maka dengan adil dan ihsan. Dia yang menyuruh manusia agar mengucapkan yang terbaik. Dan jika ia menolak orang-orang yang menentangnya atau berdebat dengan mereka maka dengan cara yang terbaik. Dia berbolak baik dalam gambaran ihsan sebagai pekerja dengannya dan mengajak bahwa engkau termasuk orang yang zalim kepada diri mereka sendiri yang jauh dari rahmat Allah Iإِلاَّ مَن ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍ فَإِنِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ tetapi orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan Allah akan mengampuninya; maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. an-naml11Maka jadikanlah Allah I sebagai tujuanmu dan tambahlah perbuatan ihsan niscaya Allah I meluruskan langkahmu dan menjadi penolongmu terhadap orang yang جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَDan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. QS. al-'Ankabuut69Janji Allah I adalah kekal dan sunnah Allah I bersama orang-orang yang muhsin terus Agama kita mengajak kepada perbuatan Di antara gambaran ihsan adalah baik islamnya dengan taubat yang benar.- Ihsan dalam bekerja adalah mantap/ Ihsan kepada Ihsan dalam mengambil kesempatan Ihsan lahir dan Dosa merupakan penolong di atas Jihad menolong berbuat Gambaran ihsan yang tertinggi adalah membalas keburukan dengan Semua sektor dakwah adalah perbuatan ihsan.[1] Shahih al-Bukhari, kitab iman, bab 31, hadits no. 42.[2] Shahih al-Bukhari, kitab al-Murtaddin, bab 1, hadits no. 6921[3] Shahih Sunan Tirmidzi 2./196 Shahih.[4] Musnad Ahmad 5/40[5] Shahih al-Bukhari, kitab berangan-angan, bab 6, hadits no. 7235[6] Shahih Muslim, kitab berburu, bab 11, hadits no 1955.[7] Shahih Muslim, kitab para musafir, bab 26, hadits no. 771.[8] Mishbah az-Zujajah fi Zawa`I Ibnu Majah 2/118 Isnadndya lemah, dan ia mempunyai syahid penguat dalam Shahih Ibnu Hibban, Abu Daud, dan at-Tirmidzi, dan ia berkata hasan gharib.[9] Shahih al-Bukhari, kitab azan, bab 57, hadits no 695 mauquf atas Utsman t.[10] Isyarat kepada firman-NyaBagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik surga dan tambahannya.. QS. Yunus26Dan firman-NyaSesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. QS. al-A'raf56Dan firman-NyaMereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Rabb balasan orang-orang yang berbuat baik. QS. az-Zumar34 Oleh SIGIT INDRIJONOOLEH SIGIT INDRIJONO “Dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” QS al-Qashash [28] 77. Dalam ayat ini, Allah SWT memberikan perintah untuk hal yang juga dilakukan oleh-Nya, hal ini menunjukkan keutamaan berbuat baik. Kita menaati perintah-Nya tersebut dengan berbuat baik. Tidak karena yang lain, melainkan ikhlas karena Allah SWT. Bisa saja seseorang berbuat baik kepada orang lain dengan menjadikannya sebagai utang budi, konsekuensinya mengharap pengakuan dan balasan. Kita tidak perlu menghitung-hitung kebaikan kepada orang lain, akan lebih baik bisa melupakannya. Hendaknya kita terus berbuat baik kepada orang lain dan tidak merisaukan meskipun orang tersebut tidak peduli. Keinginan agar banyak orang mengetahui dan mendengar kebaikan tersebut juga harus dihindari, merupakan riya karena mengesampingkan ikhlas dalam beramal. Berbuat baik merupakan akhlak mulia yang bisa diwujudkan pada berbagai hal, seperti memberikan pertolongan, menasihati untuk kebaikan, berbagi ilmu, atau memperlakukan dengan baik, terutama untuk orang-orang terdekat, yaitu orang tua, suami, istri, anak, dan kerabat. Selanjutnya berbuat baik untuk lingkup yang lebih luas, seperti dengan tetangga, di tempat kerja, dan dengan semua orang yang kita berinteraksi dengan mereka dalam kehidupan sehari-hari. "Dan berbuat baiklah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." QS al-Baqarah [2] 195. "Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." QS al-A'raf [7] 56. “Dan barang siapa mengerjakan kebaikan akan kami tambahkan kebaikan baginya.” QS asy-Syura [42] 23. Ayat-ayat di atas menerangkan janji Allah SWT bagi orang-orang yang berbuat baik, yaitu dicintai-Nya, memperoleh rahmat-Nya dan tambahan kebaikan. Sehingga kita antusias untuk berbuat baik dengan ikhlas dan mengharap rida-Nya secara istiqamah. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menolong saudaranya yang sedang dalam kebutuhan, maka Allah akan menolongnya dalam kebutuhannya." HR Bukhari dan Muslim. Beliau SAW juga bersabda, "Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan." HR Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadis di atas mendorong kita untuk selalu berusaha menolong orang lain dan juga untuk berbuat baik kepada orang lain tanpa meremehkan sedikit pun untuk hal-hal yang mudah dan kecil, seperti memperlihatkan wajah tersenyum. “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik surga dan tambahannya kenikmatan melihat Allah. "Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” QS Yunus [10] 26. Ayat ini menerangkan tentang balasan pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, pahala terbaik berupa surga dan tambahannya, yaitu kenikmatan melihat Allah SWT. Wallahu a'lam.

landasan pertama dalam berbuat kebaikan adalah